Ritme kehidupan tuh cepet banget, ya. Pagi tiba tiba udah sore, tahu-tahu malam dan udah waktunya tidur. Begitu terus setiap harinya sampai rasanya hidup tuh cuma muter di rutinitas yang sama. Nah, begitu akhirnya tiba di hari weekend atau tanggal merah, bukannya rasa lega, malah seharian gak ngapa-ngapain bikin kepala pusing tujuh keliling. Mulai muncul pikiran, โhari ini gue gak produktif bangetโ, sampai merasa bersalah karena cuma rebahan seharian.
Padahal coba deh bandingin sama hari hari biasanya yang serba gedebag-gedebug. Pagi udah berangkat kuliah, siang bisnis bareng teman, sore lanjut pilates, belum lagi masih ada tugas dari dosen yang harus diselesaikan. Rasanya setiap waktu harus diisi dengan sesuatu yang dianggap produktif. Kalau weekdays, rasanya sehari tuh gak cukup hanya 24 jam. Eh tiba hari weekend, 24 jam leluasa bisa nikmatin waktu, malah dipakai merenungi hari yang gak produktif. Merasa gak nyaman, merasa satu hari yang kosong dan merasa seolah-olah kalau gak menghasilkan sesuatu, berarti hari itu sia-sia.
Kalau kamu pernah ngalamin perasaan seperti ini – perasaan bersalah kalau kita merasa tidak cukup produktif, yuk simak artikel ini lebih dalam biar kamu bisa atasin perasaan gak nyaman tersebut.
Bisa jadi Kamu Kena โProductivity Guiltโ
Productivity Guilt merupakan perasaan bersalah seseorang ketika ia tidak menghasilkan sesuatu atau melaksanakan suatu aktivitas yang dianggap produktif. Baik itu kerja, belajar, olaharga sampai melakukan hal hal kecil yang membuat kita merasa hari itu terisi. Productivity gulit membuat seseorang merasa ia harus terus produktif bahkan di hari liburnya. Waktu luang tuh rasanya kayak utang ke diri sendiri padahal istirahat itu penting untuk kesehatan mental dan performa jangka panjang. Orang yang mengalami productivity guilt biasanya sulit menikmati kegiatan santai karena di otak mereka terus sibuk mikiran tugas, to do list bahkan apa yang belum mereka capai dalam periode waktu tertentu. Terus ngebandingin produktivitas diri mereka dengan orang lain dan selalu merasa bahwa ia harus punya pencapaian baru.
Penyebabnya dari mana? Kondisi ini muncul dari berbagai hal, mulai dari toxic productivity, kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain hingga tekanan dari lingkungan sekitar. Apalagi kalau scroll sosmed dan lihat orang lain tuh udah jalan jauh sedangkan kita masih stuck di tempat itu.
Tapi bukannya positif ya kalau feeling unproductive? Salah besar dong. Feeling unproductive memang mampu membantu kita lebih termotivasi untuk mengisi hari dengan kegiatan yang bermanfaat tetapi jika berlebihan, dapat menganggu ritme kerja dan membuat fokus menurun, sampai sampai bisa burnout lho! Bukannya semakin produktif, malah justru buat tambah lelah karena terus memaksa diri untuk ngelakuin sesuatu.
Cara Ngatasinnya Gimana?
Pertama, mulai dari ubah fixed mindset kamu jadi growth mindest. Kamu harus paham bahwa setiap hari tidak harus diisi dengan pencapaian maksimal. Kesuksesan hidup bukan hanya dinilai dari seberapa besar pencapaian atau seberapa banyak tugas yang selesai. Jangan sampai jumlah aktivitas yang dilakukan menjadi satu satunya ukuran untuk menentukan apakah harimu berharga atau tidak.
Kedua, Bedain istirahat dan malas.Istirahat bukan berarti lagi malas-malasan. Istirahat itu penting setelah seharian kamu beraktivitas dan kamu memilih untuk mengambil waktu recharge energi kamu. Itu penting banget untuk membuat tubuh lebih segar sehingga kamu bisa beraktivitas lebih baik
Ketiga, Jangan suka ngebandingin diri kamu dengan orang lain. Kamu hanya lihat sebagian kecil dari kehidupan mereka di sosmed. Jadi gak perlu selalu menjadikan kesibukan orang lain sebagai standar kamu untuk menghargai diri kamu sendiri.
Terakhir, jadwalkan waktu istirahat kamu atau kata gen Z sekarang โMe timeโ. Jadwalkan ke to do list kamu sama seperti kamu menjadwalkan pekerjaan kamu. Kamu harus bisa menjadwalkan waktu untuk melakukan hal yang kamu sukai tanpa merasa harus menghasilkan sesuatu.












