Di dunia bisnis, mitos soal generasi ketiga selalu menjadi bahan perdebatan orang-orang. Ada yang mengatakan itu cuma mitos. Ada juga yang mengatakan itu kenyataan yang terjadi. Sebuah peribahasa di china mengatakan bahwa setiap kejayaan bisnis keluarga akan runtuh pada generasi ketiga. Sebuah mitos yang seharusnya gak dipercaya, namun bukti nyata sudah banyak terjadi di berbagai bisnis di dunia. Sejumlah survei yang dilakukan oleh The Economist Intelligence dan Harvard Business School mengungkapkan bahwa 95% bisnis keluarga tidak mampu bertahan di generasi ketiga. Hadi Cahyadi, Pakar bisnis keluarga juga mengungkapkan bahwa kehancuran bisnis di pegangan generasi ketiga bukanlah kebetulan.
Terus gimana? Mending generasi ketiga gak usah lanjutin aja dong? Kan ujung-ujungnya bakal tetap bangkrut juga. Jawabannya, salah besar guys. Justru, bukan berarti setiap bisnis keluarga yang masuk ke generasi ketiga pasti akan berakhir bangkrut.
Lantas, mengapa anggapan ini bisa muncul dan apa yang sebenarnya membuat bisnis keluarga rentan gagal di generasi ketiga? Kalau kamu penasaran, yuk simak artikel ini lebih dalam!

Mengapa Kutukan Generasi Ketiga Bisa Terjadi?
Ada isitilah kutukan generasi ketiga yang disebut three-generation curse yang sudah lama jadi perbincangan banyak orang dalam dunia bisnis keluarga. Kutukan ini pertama kali dikenalkan oleh pepatah lama yang berbunyi, โShirtsleeves to shirtsleeves in three generations.โ. Di jepang, juga terkenal istilah โrice paddies to rice paddies in three generations.โ Artinya generasi pertama menjadi seseorang yang berusaha memulai dari nol membangun kekayaan dan kemudian mewariskannya pada generasi kedua yaitu anak anak mereka yang masih menghargai bagaimana nilai kerja keras orangtua mereka. Kemudian generasi ketiga yang tidak melihat dengan jelas dan merasakan bagaimana perjuangan orangtua mereka membangun kejayaan bisnis.
Generasi ketiga lahir dengan kondisi yang sudah aman bahkan sangat tenteram. Fasilitas lengkap tanpa pernah melihat bagaimana perjuangan keringat, air mata saat merintis bisnis dari nol. Nilai nilai bisnis yang luhur dan etos kerja yang ditanamkan generasi pertama seringkali sudah hilang dan berganti menjadi gaya hidup yang konsumtif.
Terus Bisa gak Diatasin? Jawabannya, Bisa dong
Fakta dari riset John L Ward dan Craig E Aronoff mengatakan bahwa masih ada 12% bisnis keluarga yang mampu bertahan sampai generasi ketiga. Ini menunjukkan apa? Hal ini menunjukkan bahwa bukan gak mungkin generasi ketiga berhasil membawa kejayaan bisnis menjadi lebih jaya lagi dari sebelumnya. Buktinya, ada bisnis keluarga yang sukses bertahan sampai ratusan tahun seperti hermes di Prancis dan Djarum di Indonesia. Mereka gak peduli dengan takdir buruk, tapi mereka berhasil nerapin cara cara berikut ini.
1. Tumbuhkan nilai nilai keluarga
Salah satu alasan bisnis keluarga sering jatuh di generasi ketiga dalah kurangnya nilai nilai keluarga yang tertanam pada generasi ketiga. Generasi pertama biasanya membangun bisnis dengan nilai dan etos kerja yang kuat. Namun ketika diturunkan ke generasi selanjutnya, biasanya nilai nilai tersebu tidak terbawa dengan cara yang sama. Maka dari itu penting bagi keluarga untuk menanamkan nilai tersebut kepada generasi penerus sejak dini.
2. Membuat Konsitusi Keluarga
Jangan memaksakan meneruskan bisnis keluarga ke anak generasi ketiga yang tidak memenuhi kualifikasi ketat. Jangan sampai seseorang dipilih hanya karena dia anak atau cucu pertama dari pemilik bisnis. Karena generasi ketiga nantinya yang memimpin bisnis bukan hanya karena dia anak pertama atau anak laki-laki pertama tetapi memang karena mempunyai kemampuan, pengalaman dan kesiapan yang jelas untuk menjalankan bisnis.
3. Mulai dari posisi bawah dulu
Calon penerus bisnis wajib bekerja di perusahaan mulai dari bawah dulu agar ia mampu memahami dengan jelas bagaimana struktur kerja di perusahaan dan memahami dengan jelas apa masalah tiap divisi. Wajarnya, calon penerus wajib bekerja selama minimal 3-5 tahun dan kemudian pelan pelan naik jabatan hingga menjadi pemimpin bisnis keluarga.
Jadi bukan gak mungkin mempertahankan bisnis keluarga di generasi ketiga, Semuanya bisa terjadi asal kamu nerapin tiga tips tersebut.












