“Day 1 Jadi Budak Corporate : Shock Berat” – Gen Z
Memasuki di dunia kerja memang menjadi salah satu momen menegangkan bagi banyak generasi Z. Gen Z baru merasa hidup sudah mulai serius ketika menjadi budak corporate 9 to 5. Masuk dunia kerja bagi Gen Z menjadi langkah besar menuju kehidupan yang lebih mandiri. Punya penghasilan sendiri, bisa beli matcha favorit tiap hari, bisa langanan netflix setahun dan terlihat keren dengan outfit ala anak kantoran. Tiap hari kerja nine to five di gedung kantor pencakar langit, kedengarannya keren soalnya bisa kerja di perusahaan dengan gedung tinggi, yang masuknya aja gak bisa tanpa akses kartu masuk.
Tapi sesungguhnya di balik bayangan keren itu, ada berbagai hal yang diam diam bikin Gen Z overthingking : “Ini hidup saya hanya untuk kerja, kerja dan kerja ya? Saya bisa gak ya punya kehidupan sosial di luar kalau bahkan hari libur aja saya masih harus ngerjain pekerjaan diluar jobdesk saya”. Istilah budak corporate pun semakin sering digunakan untuk menggambarkan kehidupan pekerja yang harus mengorbankan sebagian besar waktunya di kantor demi mengejar target dan gaji setiap bulan.
Kalau kamu penasaran apa saja sebenarnya ketakutan Gen Z ketika membayangkan dirinya menjadi budak corporate, yuk simak artikel ini lebih dalam!
5 List Ketakutan Gen Z Kalau Jadi Budak Corporate!
Pas smp pengen jadi anak sma yang cinta cintaan. Pas sma pengen jadi mahasiswa yang lebih bebas. Pas jadi mahasiswa pengennya jadi ciwi-ciwi SCBD yang tampil modis, rapi, dan profesional ala gaya office look. Sayangnya menjadi budak corporate tidak semudah yang dipikirkan dan tidak setenang kelihatannya. Maka dari itu, berikut lima list ketakutaen Gen Z Kalau Jadi Budak Corporate.
1. Nggak Pulang Tenggo
Teng artinya pas jamnya dan Go artinya pulang. Dua kata ini yang menjadi ketakutan terbesar Gen Z setiap mendekati jam pulang kerja. Dua kata ini menjadi penentu kewarasan mental gen Z. Gen Z tuh lebih mentingin kesehatan mental mereka daripada lembur tanpa kejelasan. Bagi Gen Z, jika pekerjaan selesai dan target udah terpenuhi, tidak ada alasan tetap untuk pulang lama. Kalau kita mau hidup, kita memang harus giat kerja tetapi bagi Gen Z, menghargai waktu istirahat dan menjaga kehidupan di luar pekerjaan juga menjadi salah satu bentuk kita menghargai diri sendiri. Banyak perusahaan redflag yang menganggap gak tenggo berarti gak punya rasa loyalitas terhadap perusahaan. Seolah loyalitas tuh cuma dinilai dari seberapa lama kamu mau lembur tanpa dibayar. Perilaku tenggo sering kali dinilai oleh generasi sebelumnya sebagai bentuk sikap tak hormat pada atasan atau bahkan dinilai gak punya rasa peduli pada perusahaan. Inilah yang selalu menjadi ketakutan Gen Z tiap harinya setiap mendekati jam pulang.
2. Promosi Jabatan
Fenomena Conscious Unbossing ini sedang dialami oleh kebanyakan gen z yang menjadi budak corporate. Fenomena ini terjadi karena adaya beban kerja dan stress yang dianggap tidak sebanding dengan kenaikan gaji yang didapat. Sifat gen z yang lebih mengutamakan work-life balance dan kesehatan mental tentu lebih memilih hidup tenang dengan jabatan sekarang yang rasanya sudah cukup. Peran manager bagi gen Z dinilai semakin berat, semakin banyak tanggung jawab yang harus diemban dan semua keputusan bisnis berada di tangan para manager. Gen Z tuh pengamat ulang, mereka tuh melihat atasan mereka yang memiliki tingkat stress kronis sehingga mereka tentu tidak ingin meniru jalur tersebut.
Fenomena ini sebenarnya bagus untuk menjaga kesehatan mental dan ketenangan hidup tetapi sesungguhnya dalam hidup kita harus mau berkembang dan keluar dari zona nyaman kita untuk menjadi jauh lebih sukses. Asal diimbangin dengan work-life balance, Gen Z sebenarnya bisa menjadi manager yang lebih baik, manager yang tidak hanya mengejar target tetapi mampu menciptakan dunia kerja yang sehat bagi dirinya sendiri dan orang disekitarnya.
3. Di mention di grup kantor
“@miminuc_makassar boleh tolong kerjain malam ini ya” – Atasan Gen Z
Notifikasi di tag di grup WhatsApp kantor menjadi ketakutan terbesar gen Z. Biasanya kalau di tag gini tuh antara takut direvisi atau ada pekerjaan mendadak di luar jam kerja. Yang tadinya udah rebahan dengan tenang, tiba tiba harus kembali buka laptop, revisi lagi, ngirim lagi ke bos, kemudian revisi lagi. Begitu aja terus alurnya. Dari satu mention, bisa muncul satu pekerjaan baru, beberapa revisi atau bahkan tugas yang harus selesai sebelum besok pagi. Jadi, kalau Gen Z tiba tiba menghilang setelah di-mention di grup kantor, biasanya mereka lagi mikir tuh “Balas gak ya? Atau Pura pura gak online aja deh”.
4. Ditinggal bestie resign
Atasan toxic, pekerjaan numpuk dan klien suka marah marah. Tiga hal tersebut bisa dilewati asal ada teman kerja yang nemenin kita di lewatin masa sulit itu sama-sama. Atasan toxic tetapi lingkungan kerja nyaman juga menjadi salah satu alasan gen z bertahan di suatu kantor dan memilih gak resign karena senang dengan teman temannya yang supportive. Tapi kalau ditinggal bestie resign tuh gimana?Udah gak ada lagi penyemangat Gen Z buat bertahan di kantor tersebut. Kehilangan teman paling dekat di kantor sama rasanya kayak diputusin sama ex yang udah pacaran 10 tahun lebih. Rasanya sakit banget. Makan gak tenang, kerja gak tenang, dan bernafas pun rasanya berat.
5. Hujan pas mau pulang
Jam kerja sudah selesai, laptop sudah ditutup, bahkan tas udah dibawa pulang. Udah senang banget bisa tenggo, eh malah hujan deres. Ujung-ujungnya harus nunggu lebih lama lagi biar hujannya berhenti. Yang lebih menyebalkan, kadang hujannya bukan cuma lima atau sepuluh menit. Bisa sampai satu jam, sementara pikiran udah bayangin kasur empuk, drakor dan matcha favorit. Bener gak?












