“Dibilang Kuat Salah, Dibilang Lemah Banget juga nggak terima”. Kurang lebih kayak gitu posisi gen Z sekarang. Katanya Gen Z tuh mentalnya lemah banget, lembek kayak stroberi kalau dibenyek. Kelihatannya keren di luar tetapi dianggap gampang “hancur” kalau kena tekanan sedikit. Kita dipandang sebagai generasi yang terlihat kreatif dan penuh ide, tapi juga gampang overthingking, cepat capek dan kurang tahan banting. Tapi pertanyaannya, emang benar kita selemah itu, atau cara mereka aja yang udah gak relevan dengan dunia kita?
Kalau Kamu penasaran Gen z tuh beneran lemah atau cuma salah dipahami, Lanjut scroll dulu, jangan buru-buru nge-judge. Siapa tahu kita cuma punya cara yang beda buat tetap tegak.
Selalu Disebut Generasi Paling Lemah
Generasi Z, atau yang dikenal sebagai Gen Z merupakan generasi yang lahir antara tahun 1997 hinga 2012. Kita menjadi Generasi yang sejak kecil tidak terlepas dari era digital, semua hal terhubung dengan internet. Dari bangun tidur sampai mau tidur lagi, kita nggak pernah benar benar lepas dari dunia digital. Hal ini membuat Kita para generasi Z terbiasa dengan hasil instan, cepat bosan, serta rentan terhadap masalah psikologis karena tekanan kerja yang tinggi.
Kalian para Gen Z yang sudah kerja, coba jujur deh pernah nggak sih di kantor kamu selalu ada nih satu atau dua orang dari Gen X atau Gen Y yang selalu bahas kelemahan gen Z? Katanya, Gen Z itu kalau dimarahin sedikit langsung down, gampang kepikiran bahkan dibilangin dikit udah pada mau resign. Relate gak? Yang bikin makin kepikiran tuh obrolan kayak gitu bukan cuma sekali dua kali. Tapi sering banget kejadian. Seolah olah ada stereotip yang melekat kalau Gen Z itu kurang kuat, kurang tahan tekanan, dan terlalu sensitif dalam menghadapai masalah. Padahal kalau dilihat lebih jauh, gak sesederhana itu
Maka dari situlah, Generasi Z juga dijuluki sebagai generasi stroberi, istilah yang muncul pertama kali di taiwan untuk menggambarkan generasi muda yang kreatif dan indah dipandang namun rapuh seperti buah stroberi di bawah tekanan. Terutama di dunia kerja, mereka dinilai kurang tahan tekanan ketika dimarahi atasan, menghadapi kompetisi di dunia kerja serta overwork yang sering terjadi. Julukan ini kemudian menyebar dan sering dipakai untuk penggambaran Gen Z di berbagai negara, termasuk negara Indonesia. Nggak heran, kalau sering banget Gen Z dikaitin dengan sifat “lemah”, “Manja”, atau “Nggak tahan banting”. Padahal, yang orang lihat itu cuma permukaannya aja.
Jadi sebelum bilang Gen Z itu lemah, mungkin yang perlu dipahami dulu adalah dunia yang kita hadapi sekarang juga nggak sama.
Dua Hal Jadi Alasan Gen Z dijuluki Generasi Stroberi
Gen Z tuh tipe orang yang hidupnya ga mau ribet, ga mau bertahan di lingkungan yang ngerusakin mood setiap hari. Dimarahin atasan terima terima aja? Kayaknya itu bukan gaya Gen Z. Buat Gen Z, kesehatan mental itu penting banget. Nggak ada lagi mindset “bertahan aja walaupun nggak nyaman, yang penting masih punya kerjaan”. Kalau dihadapin sama situasi yang buat mereka tertekan, Gen Z gak segan segan nyari bantuan atau bakal milih resign dari situasi itu. Sayangnya dari sudut pandang generasi sebelumnya, sikap seperti ini sering dianggap tanda mental yang lemah. Menurut mereka, Gen Z tuh terlalu sensitif, lebay dan nggak tahan banting, bahkan mudah menyerah. Padahal, kalau dilihat dari sisi lain, ini justru tunjukkin kalau Gen Z tuh lebih sadar akan batas diri dan berusaha menjaga kesehatan mental mereka.
Gen z tuh tipe generasi yang gak bisa terus terus ikutin Culture generasi sebelumnya yang tetap bertahan dengan cara yang cenderung lebih lambat, kurang praktis, dan kadang terasa nggak efisien. Dari kecil, Gen Z sudah terbiasa hidup di era digital. Semua Serba cepat, instan dan praktis. Mau cari informasi ya tinggal klik, mau belajar tinggal buka platform online. Hal hal seperti ini akhirnya membuat pola pikir Gen Z yang lebih suka cara kerja yang praktis tetapi tetap menghasilkan sesuatu yang maksimal.
Gen z tumbuh dalam budaya yang mendorong mereka untuk menolak hal atau pandangan yang tidak sesuai dengan nilai mereka. Makanya, nggak heran kalau di lingkungan kerja sering terjadi perbedaan pendapat antara Gen Z dan generasi sebelumnya. Gen Z yang apa apa tuh pengennya yang instan, praktis tetapi hasilnya tetap keren. Sementara itu, generasi sebelumnya cenderung sudah terbiasa dengan sistem yang lebih terstruktur dan konsisten. Bukan berarti mereka gak mau berubah tetapi lebih karena mereka sudah nyaman dengan cara yang selama ini terbukti berhasil. Hal seperti ini juga sering banget muncul, terutama di kalangan Gen Z yang meneruskan family business. Perbedaan pendapat antara Gen Z dan orangtua mereka sudah jadi hal yang cukup umum dan hampir nggak bisa dihindari. Kata Orangtua ke Gen Z, “Kamu tuh tau apa? Kami udah makan asam garam kehidupan. Udah anak kecil diam aja!” Relate nggak buat kamu yang jadi penerusfamily business?
Ini tuh cuma soal perbedaan cara berpikir lho!
Dari perbedaan pendapat itulah muncul pandangan terhadap gen Z yang dianggap terlalu cepat bosan, gak bisa hidup susah, selalu maunya yang gampang dan gak bisa dikit aja repot. Padahal, kalau dilihat lebih dalam, ini tuh bukan siapa yang benar dan siapa yang salah. Ini hanyalah soal perbedaan cara berpikir, cara bekerja, dan cara beradaptasi dengan zaman. Setiap generasi tumbuh di lingkungan dan kondisi yang berbeda, punya tantangan yang berbeda, yang nantinya mempengaruhi cara mereka menyelesaikan masalah juga.
Jadi, daripada saling menyalahkan, mungkin yang lebih penting adalah saling memahami. Karena pada akhirnya semua generasi tuh sama sama punya tujuan yang sama, yaitu berkembang dan bertahan di dunia yang terus berubah.
Jadi, yang salah itu Gen Z atau cara pandang mereka yang belum siap menerima perubahan?











