Heran gak sih? Katanya dollar semakin naik, malah udah pernah nembus 18 ribu rupiah tapi kok mall dan cafe tetap ramai seperti biasanya? Di kantor, karyawan pada ngeluh semua tuh dollar naik. Di kampus juga nggak kalah rame, mahasiswa pada bahas ini. Bahkan dosen sampai jadiin study case lho di kelas. Di tongkrongan bapak-bapak dan ibu-ibu juga topiknya sama tuh. Ada yang pusing karena family trip udah direncanain jauh jauh hari tetapi biaya liburan ke luar negeri malah makin mahal, gak cuma biaya liburan tetapi dollar naik juga berdampak besar pada harga barang yang akan terus ikut naik.ย 

Pokoknya ke mana-mana, yang dibahas nggak jauh dari dollar. Semua masyrakat lagi ngomongin ekonomi yang lagi nggak baik baik saja. Tapi di sisi lain mall masih rame, cafe masih pada banyak yang antri tuh dan bahkan kalau mau nongkrong tetap susah cari kursi. Ini beneran ga sih dollar nya naik? Atau cuma berita hoaks.

Eitss, Sebelum berprasangka berita hoaks, Yuk dalami artikel ini lebih dalam buat tau kok bisa ya dollar udah naik tetapi cafe dan mall masih rame juga. 

Jadi Trending Topik dimana-mana!

Kamis (4/6/2026), Nilai tukar rupiah berada di ambang tekanan hebat terhadap dolar AS, sudah tembus Rp18.000 dan kini jadi trending topik terbesar di seluruh sosial media. Topik ini memicu reaksi netizen indonesia yang pusing, panik dan resah terhadap kondisi rupiah indonesia. 

Bagaimana gak? Dollar naik, Harga barang impor juga ikut naik. Biaya perjalanan ke luar negeri juga jadi jauh lebih mahal. Mungkin ada yang berpikir โ€œah aku gak pernah ke luar negeri,jadi nggak terlalu berpengaruh.โ€ Eits, jangan salah. Banyak pekerjaan yang mengharuskan seseorang berpergian ke luar negeri untuk bertemu klien atau menjalankan bisnis. Belum lagi barang barang yang kita gunaiin sehari hari mulai dari pakaian, gadget, laptop, hingga berbagai kebutuhan pangan, banyak banget yang berasal dari impor atau menggunakan bahan baku impor.

Jadi kalau dollar naik, dampaknya tuh bukan cuma dirasain oleh orang yang sering berpergian ke luar negeri. Cepat atau lambat, kenaikan itu bisa mempengaruhi harga barang yang kita beli setiap hari. Nah, kalau harga barang yang biasa kamu beli harganya cuma segini terus tiba tiba naik, apa kamu nggak ikut kaget?

Kok bisa sih nilai tukar dollar AS terhadap rupiah terus naik? Sebenarnya kenaikan ini dipicu oleh berbagai faktor makroekonomi global yang akhir akhir ini memicu pergulatan dolar AS secara luas. 

Lipstick Effect Jawabannya!

Secara logika kalau dipikir pikir, aneh banget ya dollar lagi naik tetapi maish banyak banget yang nongkrong di cafe seolah olah gak ada pengaruhnya ke mereka? Kok bisa ya? Bukannya semuanya bakal kena? Emang mereka kebal sama guncangan ekonomi? Gak dong. Dalam kacamata ekonomi perilaku dan psikologi, ini tuh namanya fenomena Lipstick Effect, sederhanya ini tuh kecendrungan orang yang tetap memilih mengeluarkan uang untuk hal kecil yang bisa membuat mereka senang. Jadi meski mereka menahan pengeluaran besar seperti membeli rumah, mobil atau liburan mahal tetapi mereka tetap rela menghabiskan uang mereka untuk membeli barang yang relatif terjangkau seperti kopi, skincare dan makanan favorit mereka sebagai bentuk self reward. Jadi daripada cicil rumah mending nunda buat beralih ke kesenangan kesenangan kecil yang jauh lebih murah dan cepat membuat bahagia. 

Minuman favorit atau makanan favorit sering dikategorikan sebagai affordable luxury (kemewahan yang terjangkau), bukan kebutuhan pokok tetapi kebutuhan yang mampu menyuntikkan kepuasan emosional secara cepat untuk pereda stress jangka pendek. Jadi meski ekonomi lagi jatuh, tetapi bukan berarti semua orang harus berhenti belanja. Mereka hanya memilih pengeluaran yang kecil tapi bisa membuat bahagia. Teori ini pertama kali ditemukan oleh Leonard Lauder di tahun 2021, teori ini muncul setelah mengamati penjualan lipstik yang justru meningkat tajam di tengah krisis ekonomi karena konsumen beralih ke kemewahan yang terjangkau. Riset ilmiah modern dalam Journal of Personality and Social Psychologly mengatakan bahwa manusia tuh butuh hidup normal dan punya kendali sama diri mereka sendiri ketika ada tekanan inflasi.

Jadi Gimana Lipstic Effect ini berdampak negatif dong? Ga juga, Lipstic Effect tuh sebenarnya sangat membantu perputaran roda bisnis kuliner, ritel, kecantikan dan industri hiburan sehingga bisnis khususnya UMKM tetap bisa berjalan. Fenomena ini juga mendorong berbagai perusahaan untuk terus bisa berinovasi menyesuaikan produk agar tetap relevan dengan daya beli konsumen.ย 

Meski begitu, kita juga tidak bisa sebebas itu menghabiskan uang tanpa batas. Jangan sampai keinginan kamu mencari kebahagian sesaat yang nantinya berubah menjadi kebiasaan impulsive buying yang pada akhirnya menggerus anggaran masa depan seperti pendidikan dan kesehatan.

Self reward itu sehat, tetapi utang demi terlihat bahagia itu juga berbahaya



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Search

About

SeputarGenz.id adalah media digital buat anak muda yang pengen tetap update soal tren, lifestyle, teknologi, hiburan, edukasi, sampai topik yang lagi rame dibahas Gen Z.

Kontennya dikemas dengan bahasa yang santai, relate, dan gampang dipahami, jadi nggak berasa kayak baca berita yang terlalu formal. Cocok buat kamu yang suka cari informasi, inspirasi, dan insight baru seputar dunia anak muda masa kini.

Tags

Gallery