Nightmare semua kalangan gen z ~ Udah di depan kasir terus pas lagi qris eh saldo gak cukup. Alhasil keringat dingin ngucur dari seluruh badan, panas dingin dan seketika jantung berdebar gak karuan. Dunia tuh terasa seketika berhenti beberapa detik dan otak mulai panik mikir alasan apa yang harus dipakai biar gak malu malu banget. Ditambah lagi kalau di belakang antrian tuh lagi panjang banget, rasanya semua mata langsung ngelihat ke arah kita. Terpaksa buru buru mindahin saldo dari rekening lain, belum lagi kalau ternyata rekening lain juga sama sama tipis, auto pengen lenyap aja dari muka bumi ini. Lucunya Gen Z bakal bilang โBentar kak, sepertinya lagi errorโ padahal yang error kan isi rekeningnya.
Kalau kamu Gen Z dan pernah ngalamin kejadian ini di depan kasir, berarti artikel ini relate banget buat kamu. Yuk, simak cerita lengkapnya sambil ditemani kopi favorit kamu!

Tiga Hal Kesukaan Gen Z : Gampang, Praktis dan Simpel
Perkembangan teknologi digital saat ini yang paling berpengaruh di hidup gen z adalah adanya perubahan cara pembayaran. Kalau dulu semua transaksi harus pakai uang cash, sekarang modal satu HP aja udah bisa hidup tenang seharian. Mau nongkrong, healing, jajan, belanja sampai bayar parkir pun tinggal scan doang dan gak perlu ribet bawa dompet tebal. Sekarang tuh semuanya bisa dilakukan dengan cara yang jauh lebih praktis dan simpel. Tinggal buka mobile banking atau e-wallet, scan barcode di kasir, masukkan PIN dan pembayaran bisa selesai dalam hitungan detik. Gak sampai 2 menit, semua urusan beres seketika. Gak perlu repot nyiapin uang cash, cari kembalian atau bawa banyak kartu kemana mana.
Lifestyle Gen Z yang seperti ini akhirnya membuat penggunaan Qris berkembang sangat cepat di berbagai tempat, mulai dari restoran, minimarket sampai pedagang kaki lima. Bahkan gen Z tuh bisa gak jadi jajan di tempat tersebut hanya karena gak bisa qris lho. Beberapa umkm memang masih belum menyediakan Qris, Gen Z jadi kesulitan dalam melakukan pembayaran sehingga mereka biasanya mengurungkan niat untuk membeli.
Qris sebenarnya muncul juga bukan hanya memberikan manfaat dari sisi pembeli tetapi juga dari sisi penjual. Sistem Qris seperti ini membantu penjual start up dalam pencatatan keuangan menjadi lebih rapi serta mengurangi risiko kesalahan dalam menghitung uang tunai. Gen Z juga jadi bisa tau nih riwayat pengeluaran secara langsung di aplikasi sehingga dapat dengan mudah memantau keuangan sehari hari.
Praktis Sih, Tapi Tiba Tiba saldo tinggal 0 rupiah!
Gampang, cepat, praktis dan simpel sih tetapi kalau ditelti lebih dalam, Qris ini berbahaya lho daripada penggunaan uang cash. Mau jajan matcha ya tinggal qris, Mau shopping ya tinggal qris, Mau photobooth ya tinggal qris, Mau nonton ya tinggal qris, Mau makan berat ya tinggal qris juga sih. Simpel banget tetapi semuanya akan bergantung sama qris tanpa kita lihat secara nyata berapa pengeluaran yang sudah kita keluarkan dalam seharian itu. Beda banget dengan penggunaan uang cash, kamu bisa lihat secara nyata uang tuh keluar dari dompet. Qris membuat Gen Z tidak melihat fisik uang berkurang, sehingga pengeluaran jadi gak kekontrol. Akibatnya, Gen Z jadi lebih mudah membeli sesuatu tanpa berpikir panjang uangnya tuh sisa berapa ya.
Ada yang namanya Pain of paying, rasa sakit atau enggan yang muncul secara alami ketika kamu mengeluarkan lembaran uang dari dompet. Kalau kita lihat fisik uang di dompet mulai berkurang, sinyal otak kita langsung merasa sedang kehilangan aset. Sedangkan qris beda, ketika kita membayar lewat qris, kita tidak lihat uang fisik keluar sedangkan yang kita lihat hanya angka di layar ponsel yang mana ada jarak tak terlihat yang terbentuk. Tidak adanya perpindahan fisik ini membuat otak kita merasa tidak sedang mengeluarkan sesuatu yang berharga.
Ditambah lagi perilaku implusif itu dipicu adanya promo cashback atau diskon menarik dari aplikasi pembayaran digital, tanpa disadari pengeluaran kecil seperti inilah yang akhirnya menumpuk dan mengakibatkan uang menjadi cepat habis. Makanya fenomena ini tuh udah banyak banget dibahas di jurnal penelitian soal Gen Z, apakah perkembangan teknologi memang memberikan keuntungan ataukah juga mempengaruhi perilaku konsumtif masyarakat.
Pada akhirnya apa? Pada akhirnya gak sadar saldo tiba tiba udah 0 rupiah padahal udah di depan kasir nih mau bayar. Udah pasti keringat dingin baru nyesal kok selama ini gak hemat sih, kok selama ini gak lihat saldo sisa berapa sih. Begitulah fenomena anak gen z yang udah sering banget terjadi.
Apakah Qris buruk dan seharusnya ditiadakan saja? Jawabannya, Qris gak selalu buruk tetapi kamu sebagai Gen Z yang harus mempu memiliki kesadaran dan self control dalam menggunakan teknologi pembayaran digital. Kemajuan teknologi memang penting tetapi juga harus diimbangi dengan kemampuan mengelola uang digital. Jangan salahkan teknologi tetapi perbaiki cara kamu dalam mengelola keuangan digital.
Menggunakan Qris boleh boleh saja asal kamu juga mampu menggunakan logika Keuanganmu. Semangat cari cuannya~











