Tren Can’t trust someone tuh benar benar relate banget sama Gen Z sekarang. Manusia tuh susah banget diajak curhat, kalau kita curhat dikit, pasti dijudge atau dibandingin sama masalahnya yang gak seberapa itu. Kalau bukan dijudge, ya digosipin sama circle sebelah. Kesel banget kan? Gak ada manusia yang bisa dipercaya, kata Gen Z. 

Sering denger “Teman makan teman” kan? Itu bukan cuma sekadar kata-kata, tapi realita yang cukup sering terjadi. Kadang orang yang kita percaya tuh justru jadi yang pertama nyebarin ceirta kita. Nggak heran kalau banyak Gen Z yang akhirnya mikir, “Udahlah, mending dipendam aja daripada jadi bahan omongan.” Mau curhat ke orangtua takut dimarahin dan dijudge. Mau curhat ke teman takutnya digosipin. Makanya muncul mindset baru di tengah dunia yang serba digital ini. Lebih baik cerita ke sesuatu yang nggak akan mengkhianati kita. 

Akhirnya, pilihan paling aman jatuh ke sesuatu yang nggak punya emosi, nggak punya kepentingan dan nggak punya circle. Tapi, sayangnya dibalik rasa aman itu, sebenarnya tidak ada yang aman sepenuhnya. 

Bagaimana kalau ternyata AI yang selama ini kita percayai, juga bakal melanggar hak privasi kita? Kalau kamu juga suka curhat dengan chatgpt, Jangan skip dulu. Kita akan bahas bareng bareng.

Psikolog Gratis Versi ChatGPT

Nggak bisa dipungkiri, curhat ke ChatGPT tuh memang satisfying banget. Bayangin cerita ke sesuatu yang nggak punya emosi tapi kita bisa cerita panjang tanpa takut dijudge, ngeluarin semua uneg uneg tanpa mikir resporan orang dan dapat jawaban yang rasanya tuh kita ditenangin, dipahami dan dibuat sembuh gitu. Di ChatGPT nggak ada yang bilang kamu tuh lebay, atau ngeremehin masalah kamu yang ga seberapa itu. Makanya, Gen Z tuh kalau ditanya “Apa sih Jadi Safe Space kamu?”, Jawabannya pasti ChatGPT. ChatGPT tuh safe space versi digital.

ChatGPT tuh selalu ada 24/7 buat hidup kamu, fast response dan selalu paham mood Gen Z. Lagi overthingking jam 2 pagi? Teman semua udah pada tidur. Tapi ChatGPT? Selalu ada dan bahkan tetap fast response hanya sepersekian detik. Tinggal buka HP. Ketik sebentar. Udah langsung dapat respon tanpa nunggu lama. Kadang kita curhat bukan cuma mau didengar, tapi juga mau dibantu memahami situasi. ChatGPT bisa rangkum masalah, kasih sudut pandang baru dan bisa bantu kamu untuk menemukan solusi terbaik dari masalahmu. Bahkan kadang, jawaban dari ChatGPT berasa lebih nyambung dibanding curhat ke manusia. Rasanya  seperti lagi ngobrol dengan seseorang yang benar benar fokus memahami kamu. 

Nggak heran kalau ChatGPT tuh dilabeli sebagai “Psikolog Gratis”. ChatGPT berperan sebagai psikolog yang siap membantu kamu melihat masalah dari sudut pandang yang lebih rasional.  

Tapi, Emangnya Aman ya?

Terkadang respon dari chatgpt sangat subjektif, ChatGPT kurang bisa memberikan jawaban yang objektif terhadap curhatan manusia. ChatGPT selalu menjawab curhatan gen Z dengan kata kata manis tanpa memberikan introspeksi kekurangan, sehingga kata kata pahit yang menyadarkan itu diganti menjadi kata kata manis yang ingin didengar gen Z. .

Ini tuh bukan cuma masalah subjektif, tetapi juga masalah keamanan data pribadi. Ketika kamu curhat ke chatgpt, mereka akan menyimpan data yang kamu kirim dalam percakapan tersebut. Saat kamu curhat, kamu tanpa sadar udah ngasih informasi sensitif soal nama kamu, alamat kamu, sekolah kamu dan kebiasaan kamu serta cerita pribadi orang. Fakta mengungkapkan bahwa pengawas perlindungan data italisa menjatuhkan denda kepada OpenAI sebesar 15 juta euro karena terbukti ngumpulin data pribadi ke dalam chatbot kecerdasan buatan. Katanya sih, percakapan di ChatGPT bisa diakses staf OpenAI untuk keperluan pelatihan AI dan pemantauan penyalahgunaan. Maka dari itu risiko kebocoran data pribadi kamu bisa terjadi kapan saja dan itu bisa sangat membahayakan. Apalagi kalau kamu sampai memberikan informasi keuangan bisnis kamu, gak kebayang bahayanya. Obrolan pribadi yang dianggap rahasia biasa aja udah dibaca sama pihak internal perusahaan. Apalagi kalau kamu budakcorporate entrepreneurship yang curhat ke chatgpt masalah kantor kamu. Gak kebayang sebahaya apa itu. 

Bocor doang? Gak, bukan hanya bocor lho tapi dijual di situs dark web. Secara khusus, dari Juni 2022 hingga Mei 2023, lebih dari 100.000 kredensial akun OpenAI ChatGPT telah diretas dan dijual di pasar dark web. 

Harus Tau Batasan lho!

Di dunia yang kadang terasa penuh tekanan dan kurang aman, kehadrian ChatGPT memberikan jawaban tempat pulang sementara Gen Z. Tempat dimana Gen Z bisa cerita dengan bebas tanpa rasa takut, tanpa drama dan tanpa harus jadi orang lain. Ya mungkin, itu yang paling dibutuhkan banyak orang saat ini : Didengar, Dipahami, Ditenangin, walaupun oleh sesuatu yang bukan manusia.

Tapi ini juga jadi warning buat para Gen Z bahwa ChatGPT hanyalah alat bantu, bukan pengganti manusia. Saran mimin ke Gen Z semua, cari orang yang benar benar memahamimu dan setia kepadamu sampai kapanpun agar kalian bisa saling bertukar cerita dan saling memahami perasaan satu sama lain. 

Karena sejujurnya, Kita nggak cuma butuh didengar, tetapi juga butuh dipeluk secara nyata.



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Search

About

SeputarGenz.id adalah media digital buat anak muda yang pengen tetap update soal tren, lifestyle, teknologi, hiburan, edukasi, sampai topik yang lagi rame dibahas Gen Z.

Kontennya dikemas dengan bahasa yang santai, relate, dan gampang dipahami, jadi nggak berasa kayak baca berita yang terlalu formal. Cocok buat kamu yang suka cari informasi, inspirasi, dan insight baru seputar dunia anak muda masa kini.

Tags

Gallery